Sabtu, Juni 06, 2009

Sesama Bis Kota Dilarang Saling Mendahului

"Sesama Bis Kota, Dilarang Saling Mendahului". Anda pernah mendengar kalimat itu? Mungkin pada awalnya kalimat itu dibuat untuk mengingatkan para sopir bis kota supaya tidak ngebut atau balap-balapan dengan bis kota yang lainnya. Sehingga, kalimat itu jelas tertulis dikaca belakang setiap bis kota. Lama kelamaan, kalimat itu menjadi begitu populer seolah ingin mengingatkan kita supaya tetap menjaga norma dan etika ketika sedang bersaing.

Semakin tinggi tingkat persaingan, semakin besar peluang untuk saling menyerang. Bahkan, tak jarang kita saling menjatuhkan.Persaingan tidak hanya terjadi untuk memperebutkan kursi kepresidenan. Melainkan juga pada semua sektor kehidupan. Persaingan bisnis, terjadi setiap hari. Persaingan dengan teman dikantor, seolah tidak kenal henti. Bahkan persaingan untuk memperebutkan seorang pacar, bukan peristiwa yang langka. Pendek kata, kita seolah hidup dalam lingkungan yang penuh dengan persaingan. Sampai-sampai, ada orang yang berkeyakinan; "kalau hidup tidak mau bersaing, maka kita bakal tersingkirkan. ". Oleh karena itu, tidak mengherankan jika kita sering menemukan orang melakukan apa saja untuk memenangkan persaingan.

Dikantor, persaingan sering melahirkan hubungan yang tidak harmonis diantara karyawan yang satu dengan karyawan yang lain. Bahkan, antara bos di divisi yang satu dengan bos di divisi yang lain. Akhirnya, anak buah mereka juga mau tidak mau ikut terlibat didalam persaingan tidak sehat itu. Walhasil, hubungan diantara kedua divisi tidak pernah berjalan mulus. Ada saja kata-kata sindiran, memojokkan atau usaha-usaha penjegalan satu sama lain. Meskipun mereka bertemu setiap hari, mereka enggan untuk sekedar saling bertegur sapa.Tetapi, apakah persaingan selalu berdampak seburuk itu? Tidak juga. 

Persaingan yang sehat bersifat positif. Bahkan, orang-orang yang bersaing secara sehat dapat mengambil manfaat dari proses persaingan itu. Sebab, persaingan yang sehat memiliki beberapa ciri unik yang semuanya bermotif positif. Ciri-ciri itu antara lain;
Pertama, orang-orang yang bersaing saling menghormati dan menghargai satu sama lain.
Kedua, orang-orang yang bersaing memiliki pertalian batin dan hubungan pribadi yang baik.
Ketiga, orang-orang yang bersaing menerima dengan legowo kemenangan temannya.
Keempat, orang yang kalah bersaing mendedikasikan sumberdaya yang dimilikinya untuk mendukung kemenangan temannya.
Kelima, orang yang menang bersaing menjaga perasaan dan merangkul temannya yang kalah untuk berbagi kemenangan dengannya.Sedangkan persaingan yang didasari oleh rasa iri dan keserakahan justru menyebabkan perpecahan dan suasana yang merugikan bagi perusahaan.

Sebab, orang-orang yang dirinya diliputi oleh keserakahan selalu ingin menguasai segala hal indah sendirian. Orang semacam ini, tidak akan puas oleh jabatan atau penghasilan yang mereka dapatkan. Selama masih ada orang lain yang lebih dari dirinya, dia akan terus berusaha mengalahkannya. Perasaan iri, sama berbahayanya. Orang-orang yang memelihara rasa iri tidak pernah senang melihat keberhasilan orang lain. Sehingga dia melakukan cara apapun untuk menjatuhkan.

Namun, mengapa hanya 'sesama bis kota' yang dilarang saling mendahului? Apakah bis kota boleh 'mendahului angkot', misalnya? Didalam konteks kehidupan manusia, ternyata memang persaingan tidak sehat itu terjadi diantara orang-orang yang berada dalam 'satu komunitas' atau 'satu profesi'. Misalnya, karyawan iri kepada sesama karyawan. Mereka tidak iri kepada pedagang di pasar. Sebaliknya, pedagang di pasar, iri pada temannya sesama pemilik kios di pasar. Artis iri kepada artis. Pelajar iri kepada pelajar. Trainer, iri kepada trainer. Teman iri kepada teman. Dan sebagainya. Kemudian, dari perasaan iri itu muncullah sifat antipati. 

Dan ketika seseorang memiliki sikap antipati, maka pasti dia tidak akan pernah bersedia untuk mengulurkan tangan dengan tulus ketika temannya membutuhkan bantuan. Padahal bukankah Tuhan menciptakan kita untuk saling menolong satu sama lain? Jika demikian, mungkin sudah saatnya bagi kita untuk mengikis habis semua perasaan iri yang masih tersisa didalam hati

Diambil dari Milis LCI D307B" , "Milis Akuntansi 98" , "Milis Smudabaya98" ,

Sabtu, Maret 07, 2009

Kiat Sederhana Panjang Usia

Sumber : tidak diketahui, diambil dari kiriman e-mail rekan saya beberapa waktu yll.

Panjang usia dan sehat, siapa pun pasti menghendaki ini. Ada10 cara yang sangat mudah asal disiplin dilakukan untuk mencapainya. Apa sajakah itu?

1. KONTROL LINGKAR PINGGANG
Penelitian terakhir dari Universitas Birmingham menemukan bahwa adalah lingkar pinggang, bukan berat badan yang menjadi indikator terbaik untuk penyakit diabetes tipe 2 dan penyakit jantung. Para ahli percaya bahwa lemak yang terkumpul di perut lebih berbahaya dibandingkan yang terakumulasi di paha karena lemak di perut dapat merusak sistem insulin tubuh. Bila ini terjadi, risiko diabetes dan penyakit jantung jadi meningkat. Karena itu, usahakan agar lingkar pinggang pria tak lebih dari 94 cm dan wanita tak lebih dari 80 cm.

2. CARI SECOND OPINION
Setiap menerima resep dari dokter, periksalah dengan pihak apotek, obat-obatan apa yang tak boleh dicampur dan apa efek sampingnya. Jika tak yakin, cari second opinion. Peneliti dari University Liverpool, Inggris, menemukan bahwa 10 ribu orang di Inggris mati karena reaksi merugikan dari obat-obatan, yang meski tak perlu, tetap diresepkan tetapi dalam dosis yang tidak tepat.

3. JAGA KEBERSIHAN DAPUR
Dapur adalah hot spot atau tempat kuman paling banyak di rumah. Penelitian para ahli di Universitas Arizona, AS, menemukan bahwa spons di dapur adalah tempat tinggal lebih dari 7 miliar bakteri. Tempat favorit lain adalah bak cuci piring, pegangan keran dapur, talenan, dan pegangan kulkas. Karena itu, sering seringlah mengganti lap dapur serta cuci dan masak sayuran dengan benar.

4. RAJIN BERAMAL
Penelitian di Universityof Michiganmenemukan bahwa orang yang sering membantu atau mendukung secara emosional orang lain, risiko mati muda berkurang hingga 60 persen. Sebaliknya, orang yang tak pernah menolong, risiko mati meningkat dua kali lebih banyak dibanding orang yang suka beramal.

5. BERSAHABAT DENGAN IBU
Kalau lama tak bertemu Ibu, segeralah menelepon. Menurut peneliti di Harvard Medical School, orang yang hubungannya jauh dengan sang ibu, lebih rentan kena penyakit serius di masa tua seperti penyakit darah tinggi dan jantung.

6. BANGUN RASA PERCAYA DIRI
Studi di Universitas Toronto menemukan bahwa orang yang mendapat kepercayaan diri tinggi karena memenangi Piala Oscar hidup 4 tahun lebih lama dibanding aktor dan aktris yang tak pernah menang. Para peneliti percaya bahwa rasa damai dalam diri dan pencapaian prestasi melatih tubuh untuk belajar mengatasi stres dengan baik.

7. SARAPAN OAT
Oat mengandung fitokimia yang merupakan antioksidan pelawan penyakit jantung dan kanker. Studi di Universitas Tufts, AS, menemukan bahwa fitokimia dalam oat efektif mengurangi jumlah plak dan molekul berlemak yang melapisi dinding pembuluh arteri.

8. TAK PERLU BERLEBIHAN MINUM SUPLEMEN ALAMI
Memang sumber suplemen itu alami. Namun, jangan sekalipun berasumsi bahwa jika satu tablet berkhasiat, minum lebih dari satu pasti lebih berkhasiat. Rod Brennan, Direktur Sydney's Nature Care College merekomendasikan minum supplemen dan vitamin sesuai
dosis yang dianjurkan.

9. MAKAN PISANG
Makan pisang sehari sekali baik sekali untuk mengatasi penyakit tekanan darah tinggi. Sebuah studi di AS menemukan bahwa orang yang kekurangan potasium lebih beresiko terkena hipertensi, pemicu penyakit jantung. Pisang adalah sumber potasium yang sangat baik. Sumber potasium lainnya adalah alpukat, labu dan kentang.

10. MAKAN SUP MISO
Publikasi dari John Hopkins Medicine mengungkapkan bahwa orang-orang di Pulau Okinawa, Jepang, 75 persen lebih rendah dibanding orang Amerika Serikat untuk kena kanker. Itu karena mereka banyak mengonsumsi makanan bersumber kedelai, khususnya sup miso. Kedelai adalah sumber isoflavon, zat yang ampuh mencegah kanker yang disebabkan oleh berlebihnya hormon estrogen.
muditao.com oleh Tjing Wen

Senin, Februari 16, 2009

TOPENG


My Mask
I hide behind a mask
You can’t see my face
Looking at first glance
I’m in a happy place
The truth is, that’s a lie
But you can’t really tell
that in the back of my mind
I think the world should rot in hell
What’s the point of living
If we are all going to die
What’s the point of being happy
If in the end we’re going to cry
But this is something no one sees
This is something no one knows
And yet deep inside of me
This feeling of hatred grows
So even though this mask reveals a happy side of me,
I use the mask as a shield to look at what others can never see.
by Jamila Rashid


Saya sempat terkejut ketika mendengar cerita seorang teman mengenai suaminya. Tak lama setelah pernikahan mereka, sifat suaminya berubah 180 derajat. Dari yang tadinya kelihatan pasrah, tenang, penyayang, dan kalem, menjadi tukang mengancam, suka memerintah, dan sering marah-marah.

Sang istri berusaha lebih sabar, mengalah, dan mencoba memahami perilaku suaminya, serta mulai mengurangi marah-marah dan tidak menuntut. Ia berusaha mengubah diri menjadi istri yang lebih baik.

Nyatanya, tingkah suaminya makin menjadi-jadi. Makin tak peduli. Padahal di lingkungan sosial, sang suami merupakan orang yang dianggap baik, taat beribadah, dan karyawan yang penurut. Ia juga selalu mengikuti kemauan/permintaan orang lain.

Teman saya tadi hanya bisa bertahan. Ia berusaha sabar dan berharap suaminya berubah. Apa yang sebenarnya terjadi kepada suaminya? Adakah sesuatu yang disembunyikannya, apakah ada gangguan jiwa, atau … entah apa lagi.

Suami teman saya tadi di depan orang lain seperti mengenakan topeng. Ketika ia merasa lelah dengan topeng tersebut, istrinya seolah-olah menjadi tempat pelampiasan amarah dan kekecewaan.

Lain halnya dengan kisah rekan saya yang lain. Ia mengaku lelah karena harus berpura-pura dan bermuka manis di depan atasannya. Alasannya, karena untuk kelangsungan karier.

“Kalau tidak begitu gimana dong…ntar nggak dapat promosi. Tapi, lama-lama capek juga yah…,” katanya. Ia menceritakan bahwa dalam keseharian harus menyetujui atasan, rela diperlakukan apa pun. Di kantor, ia seperti terbelenggu. Beruntung, saat sampai di
rumah, “topeng” tadi terlepas. “Di rumah bisa ngomongin rasa kesal dan ketidaksetujuan dengan bebas,” lanjutnya.

Abimanyu

Ada kalanya manusia mengenakan “topeng” dalam kehidupannya. Kita ingin diakui atau tampak baik di depan banyak orang.

Ingin Tampak Baik

Dua contoh tadi mungkin pernah atau tengah kita alami. Ada kalanya manusia mengenakan “topeng” dalam kehidupannya. Kita ingin diakui atau tampak baik di depan banyak orang. Kita berusaha keras menekan segala rasa marah, keinginan untuk mengeluarkan pendapat kita, dan (terpaksa) pasrah.

Hal tersebut dilakukan, bisa karena rasa tidak enak, ada tujuan tertentu (dalam kasus ke-2 karena karier), atau mau merasa aman. Padahal, sebenarnya dalam hati, kita tidak rela atas keadaan tersebut.

Meski merasa tak rela, wajah dan perilaku kita menyatakan lain. Memang, pada akhirnya banyak orang mengakui kebaikan dan kesabaran kita. Namun, hal tersebut dapat membuat kita menjadi lebih tertekan.

Dalam kasus di atas, saya juga tidak mengetahui dengan pasti, apa yang dirasakan suami teman saya. Saya juga tidak mengetahui, mengapa ia berubah. Saya juga tidak berani menganggap bahwa ia mengalami gangguan jiwa, karena hal tersebut memerlukan diagnosa. Secara awam, saya merasa ia menggunakan “topeng” dan pada akhirnya topeng
tersebut malah membebaninya. Sayangnya, beban dan rasa putus asa tersebut ditimpakan kepada orang lain yang dianggap tidak berdaya.

Kasus ke-2 lebih umum ditemui. Sering terjadi di antara kita. Namun, masih ada tempat untuk menjadi diri sendiri, seperti teman, dan lingkungan keluarga. “Topeng” dikenakan sementara, namun pada akhirnya melelahkan si empunya juga.

Kadang, ada orang yang berpendapat bahwa dalam kehidupan, kita perlu berganti-ganti “topeng”. Nyatanya, “topeng” adalah sesuatu yang membebani. Membuat orang merasa pengap, dan sesak. Di sisi lain, membatasi ruang gerak individu.

Dengan topeng, individu tidak mampu mengekspresikan diri. Yang diekspresikan adalah diri yang palsu. Ia kehilangan dirinya yang sebenarnya.

Individu dengan berbagai topeng akan merasa kelelahan. Ia berusaha menyenangkan setiap orang, berusaha tampak baik di hadapan semua orang, berharap diterima dan disukai oleh orang lain. Tanpa ia sadari, topeng yang ia kenakan juga dapat melukai orang lain.

Menjadi Diri Sendiri 

Berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan adalah hal yang baik. Tetapi, tentu saja hal tersebut dilakukan tanpa harus mengorbankan perasaan dan kepentingan diri. Kadang, kita memang harus berani menentang arus, mengeluarkan pendapat, dan berperilaku apa adanya. Mungkin orang lain belum tentu menyukai hal tersebut, namun bila hal itu dilakukan, karena merupakan sesuatu yang memang benar, mengapa
kita harus khawatir?

Dengan menjadi diri kita sendiri, individu menjadi individu yang sehat. individu dapat mengekspresikan diri secara tepat dan mengembangkan dirinya. Setiap tindakan yang dilakukan merupakan cermin dari keadaan dirinya.

Tentu saja, seiring dengan bertambahnya usia, maka kita semakin matang dalam hal menjadi diri sendiri, semakin bijaksana dalam pikiran, tindakan, dan menjadi bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan. Bukan sebaliknya, semakin tua malah makin dalam
terperangkap dalam ke-pura-puraan.

Kita juga berhak untuk asertif, menolak, atau mengatakan tidak dengan alasan dan cara yang tepat. Jangan sampai, usaha kita untuk menyenangkan semua orang dan dianggap baik, malah menjadi batu sandungan bagi diri sendiri. Kebaikan, bahkan segala sesuatu, harus dilakukan dengan tulus. Bukan karena ingin terlihat baik.

Bila kita memang pribadi yang lurus, dan benar, maka orang akan melihat sinar kebaikan itu sendiri tanpa kita harus bersusah payah.

Sudah siapkah Anda melepas topeng Anda dan menampilkan diri Anda apa adanya?

Sumber: Topeng oleh Clara Moningka, Kepala Lembaga Pelayanan Psikologi dan Dosen Fakultas Psikologi UKRIDA Jakarta

Disalin dari

http://bocahklene.blog.telkomspeedy.com/2009/02/16/topeng/#more-206

Minggu, Februari 15, 2009

KALIURANG - YOGYAKARTA


 KALIURANG - YOGYAKARTA  

Pada awal abad ke-19, sejumlah ahli geologi Belanda yang tinggal di Yogyakarta, bermaksud mencari tempat peristirahatan bagi keluarganya. Mereka menyusuri kawasan utara yang merupakan dataran tinggi. Sesampainya di Kaliurang yang berada di ketinggian 900 meter dari permukaan laut, para "meneer" tersebut terpesona dengan keindahan dan kesejukan alam di kaki gunung itu. Mereka akhirnya membangun bungalow-bungalow dan memutuskan kawasan itu sebagai tempat peristirahatan mereka.
Pesona Alam Kaliurang dan Bangunan Sejarah

Perjalanan menuju kaliurang dari arah Jogja akan mengingatkan kita pada lukisan pemandangan saat masih di taman kanak-kanak. Sebuah gunung dengan jalan di tengahnya serta hamparan hijau yang membentang di kedua sisinya dihiasi dengan rumah penduduk, akan menghilangkan penat dalam bingkai lukisan alam.

Diselimuti angin yang berhembus sejuk, bahkan di saat mentari tepat di atas kepala, kesejukan itu masih terasa. Udara yang menari melewati pepohonan dan turun dengan gemulai, memberi rasa segar ketika menerpa tubuh.

Pemandangan Gunung Merapi memberi sensasi tersendiri di kawasan ini. Bagaikan seorang gadis desa yang menutup tabirnya bila sengaja diperhatikan, gunung ini akan tertutup kabut seolah malu bila sengaja datang untuk melihatnya.

Menyusur sisi barat Bukit Plawangan sejauh 1100 meter, menempuh perjalanan lintas alam, melalui jalan tanah yang diapit pepohonan dan lereng rimbun, deretan 22 gua peninggalan Jepang menjadi salah satu keunikan wisata alam Kaliurang.

Di samping keindahan alamnya, Kaliurang juga mempunyai beberapa bangunan peninggalan sejarah. Diantaranya adalah Wisma Kaliurang dan Pesangrahan Dalem Ngeksigondo milik Kraton yang pernah dipakai sebagai tempat berlangsungnya Komisi Tiga Negara. Atau Museum Ullen Sentalu yang sebagian bangunannya berada di bawah tanah. Museum ini menguak misteri kebudayaan dan nilai-nilai sejarah Jawa, terutama yang berhubungan dengan putri Kraton Yogyakarta dan Surakarta pada abad ke-19.
Kawasan Rekreasi Keluarga

Berjarak 28 kilometer dari pusat kota Yogyakarta, Kaliurang kini menjadi sebuah kawasan wisata alam dan budaya yang memikat, serta menjadi tempat yang menyenangkan untuk rekreasi keluarga.

Bersantai dengan keluarga, orang tua bisa bersantai sambil mengawasi anak-anak bermain di Taman Rekreasi Kaliurang. Di dalam taman seluas 10.000 meter persegi anak-anak bisa bermain ayunan, perosotan, atau berenang di kolam renang mini. Selain itu di taman yang dihiasi oleh patung jin ala kisah 1001 malam dan beberapa jenis hewan ini, anak-anak juga bisa bermain mini car atau memasuki mulut patung seekor naga yang membentuk lorong kecil dan berakhir di bagian ekornya.

Sekitar 300 meter ke arah timur laut dari taman rekreasi terdapat Taman Wisata Plawangan Turgo. Di kawasan taman wisata ini terdapat kolam renang Tlogo Putri yang airnya berasal dari mata air di lereng Bukit Plawangan. Bermain ayunan atau bercanda bersama keluarga di taman bermain yang berada di dalam taman wisata, rasa lelah akan lebur dalam rimbunnya taman perhutani.

Melangkahkan kaki menyusuri sisi timur, melihat beberapa ekor monyet yang berloncatan dan berayun di dahan, menikmati kicau burung di jalur berbatu susun dan tangga berundak di jalan menanjak sejauh 900 meter; mungkin akan sedikit melelahkan, tetapi pemandangan Gunung Merapi di saat cuaca cerah dari Bukit Pronojiwo, akan menggantikan rasa lelah dengan kekaguman. Pada perjalanan ke puncak Pronojiwo, YogYES sempat adu lari dengan seorang turis asing asal Inggris bernama Nick (47 tahun). Meski memenangkan adu lari, tapi perasaan menyatu dengan suasana alamlah yang paling membahagiakan. Air minum yang dijual oleh wanita penjaja minuman di puncak Pronojiwo bisa melepas rasa dahaga sambil menikmati Merapi yang berdiri tegak di tengah rimbunnya hamparan hijau. Setiap hari libur, Merapi bisa dilihat melalui teropong yang disewakan dengan tarif Rp.3000 selama 30 menit.

Sesampainya kembali di lokasi taman bermain, bersantailah sejenak di Tlogo Muncar. Meredakan letih sambil menikmati air yang terjun di sela-sela bebatuan. Biasanya air akan mengalir dengan deras di musim penghujan.

Jika ingin menikmati pemandangan Kaliurang, para pengunjung bisa berkeliling menggunakan kereta kelinci yang dikenal dengan istilah sepoer. Kendaraan ini biasa mangkal di depan taman wisata yang dipenuhi dengan kios-kios penjaja makanan. Jalur yang dilaluinya mengitari kawasan wisata Kaliurang dari timur ke barat. Melewati gardu pandang yang terletak di sebelah barat, Merapi akan terlihat jelas ketika cuaca cerah. Tarif untuk menaiki kendaraan ini Rp.3.000 per orang jika yang naik minimal tujuh orang. Untuk perjalanan eksklusif, Rp.20.000 akan membuat perjalanan layaknya seorang bangsawan.

Bila ingin merasakan sejuknya angin dan heningnya malam di Kaliurang, berbagai villa, bungalow, pesanggrahan atau pondok wisata bisa menjadi pilihan. Tarifnya juga beragam, mulai dari yang 25 ribuan hingga 200 ribuan. Beberapa penginapan yang bisa anda nikmati, antara lain: Bukit Surya (paling disarankan), Puri Indah Inn (bintang 3), Wisma Sejahtera, dll.

Sebelum pulang pastikan untuk membawa sedikit oleh-oleh yang dijajakan. Mulai dari buah-buahan produksi petani lokal hingga makanan khas yakni tempe dan tahu bacem serta jadah (makanan yang terbuat dari beras ketan dan parutan kelapa).

Hamparan hijau di kaki gunung, udara sejuk dan segala paket kemewahan alamnya, akan meredakan segala kepenatan dan memberikan kesegaran dari hiruk pikuknya perkotaan. 


diambil dari 

http://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/places-of-interest/kaliurang/

Rabu, Februari 11, 2009

posisi aman dan nyaman saat mengemudi


Jangan meremehkan posisi mengemudi anda, karena ternyata hal tersebut bisa cukup berpengaruh terhadap kesehatan dan tentunya kenyamanan dalam berkendara. Sikap mengemudi yang baik memudahkan anda mengontrol kendaraan dengan lebih sempurna, hingga selain faktor kenyamanan dan kemudahan, dari segi faktor keamanan pun akan semakin terjaga pastinya. So, berikut tips/saran mengenai bagaimana posisi berkendara yang baik :
Hindari gaya menyetir dengan model badan merebah. Gaya menyetir seperti itu kurang baik karena refleks tangan jadi tak lincah.
Saat menyetir sebaiknya tangan jangan lurus tetapi membentuk siku. Itu membuat Anda punya tenaga yang cukup kuat untuk mengontrol kemudi.
Duduklah dengan lutut membentuk sudut 110 derajat. Dengan posisi tangan dan kaki seperti itu selain melemaskan otot juga memberi jarak pandang jadi lebih jauh.
Perhatikan peletakan tangan yang benar di setir. Sebaiknya tangan kanan pada posisi jam 3, sedang tangan kiri pada posisi jam 9.

Selanjutnya, untuk melakukan perputaran setir saat membelok, area tangan kanan hanya boleh bergerak dari jam 11 sampai jam 6. Sedangkan tangan kiri dari jam 6 sampai arah jam 1. Jangan pernah mengemudi tanpa menggunakan alas kaki apalagi meletakkan alas kaki di bawah jok. Hati-hati saat menginjak pedal rem atau kopling jangan sampai tersangkut sepatu.

http://www.otomotifnet.com/otoforum/showthread.php?t=909